Sabtu, 01 Juni 2013

MANAJEMEN PENGELOLAAN PERBEKALAN FARMASI DAN ALAT KESEHATAN DI APOTEK

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
           
            Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan dalam membantu mewujudkan tercapainya derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendirisendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan atau masyarakat.
Selain itu juga sebagai salah satu tempat pengabdian dan praktek profesi apoteker dalam melaksanakan pekerjaan kefarmasiaan. Apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran perbekalan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Definisi diatas ditetapkan berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek pasal 1 ayat (a).
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus pendidikan profesi dan telah mengucapkan sumpah berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesa sebagai Apoteker. Adapun Asisten Apoteker adalah tenaga kesehatan yang membantu Apoteker. Asisten Apoteker menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 679/MENKES/SK/V/2003 Pasal 1, tentang Registrasi dan Izin Kerja Asisten Apoteker menyebutkan bahwa “Asisten Apoteker adalah Tenaga Kesehatan yang berijasah Sekolah Menengah Farmasi, Akademi Farmasi Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan, Akademi Analisis Farmasi dan Makanan Jurusan Analis Farmasi dan Makanan Politeknik Kesehatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Di Apotek, Asisten Apoteker merupakan salah satu tenaga kefarmasian yang bekerja di bawah pengawasan seorang Apoteker yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek). Apoteker Pengelola Apotek (APA) merupakan orang yang bertanggung jawab di Apotek dalam melakukan pekerjaan kefarmasian. Pelayanan kefarmasian yang dilakukan oleh Apoteker dan Asisten Apoteker di apotek haruslah sesuai dengan standar profesi yang dimilikinya. Karena Apoteker dan Asisten Apoteker dituntut oleh masyarakat pengguna obat (pasien) untuk bersikap secara professional.
Kewajiban Asisten Apoteker Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332/MENKES/X?2002 adalah  melayani resep dokter sesuai dengan tanggung jawab dan standar profesinya yang dilandasi pada kepentingan masyarakat serta melayani penjualan obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter, serta memberi informasi kepada pasien. Surat Izin Kerja Asisten Apoteker, dalam Pasal 1 KEPMENKES yaitu “bukti tertulis yang diberikan kepada Pemegang Surat Izin Asisten Apoteker (SIAA) untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di sarana kefarmasian”. Dengan begitu, jelas bahwa hanya Asisten Apoteker yang telah memiliki Surat Izin Asisten Apoteker sajalah yang dapat mengajukan permohonan perolehan Surat Izin Kerja Asisten Apoteker. Dan juga, hanya Asisten Apoteker yang memiliki Surat Izin Kerja Asisten Apoteker sajalah yang dapat melakukan pekerjaan kefarmasian seperti pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional, baik itu dibawah pengawasan Apoteker, tenaga kesehatan atau dilakukan secara mandiri sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sebagai contoh, pada toko obat berizin, puskesmas atau Pedagang Besar Farmasi (PBF) dimana seorang Asisten Apoteker dapat melakukan pekerjaan kefarmasian tanpa pengawasan. Oleh sebab itu, seorang Asisten Apoteker harus memiliki Surat Izin Kerja Asisten Apoteker, baru dapat melakukan perkerjaan kefarmasian.

B.     TUJUAN

1.      Mahasiswa dapat memahami dan mengetahui apa yang dimaksud dengan Apotek
2.      Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana sistem manajemen dalam Apotek
3.       Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana peraturan-peraturan yang ada di Apotek
4.      Mahasiswa dapat mengtahui Fungsi dan Tugas personalia dalam Apotek. 





















BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Pengertian Apotek
Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 1965 tentang Apotek pada pasal 1 menyebutkan bahwa “Yang dimaksud dengan Apotek adalah suatu tempat tertentu dimana dilakukan usaha-usaha dalam bidang Farmasi dan pekerjaan Kefarmasian”. Peraturan Pemerintah tersebut kemudian dirubah dengan keluarnya PP No.25 tahun 1980 tentang perubahan atas PP No.26 tahun 1965 tentang Apotek menjadi “Apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran obat kepada masyarakat”
Apotek merupakan salah satu sarana kesehatan yang diperlukan dalam menunjang upaya pelayanan kesehatan. Apotek adalah suatu tempat tertentu tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi. Perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. ( Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 1998 dan Keputusan Menkes Nomor 1332/Menkes/SK/X/ 2002.
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian, apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Kepmenkes RI) No. 1332/MENKES/SK/X/2002, tentang Perubahan atas Peraturan MenKes RI No. 922/MENKES/PER/X/1993 mengenai Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, yang dimaksud dengan apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian penyaluran perbekalan farmasi kepada masyarakat.



·         Landasan Hukum Apotek
            Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang diatur dalam :
    1. Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
    2. Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika.
    3. Undang-Undang No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika.
    4. Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 1980 tentang Perubahan atas PP  No. 26 tahun 1965 mengenai Apotek.
    5. Peraturan Pemerintah No 41 tahun 1990 tentang Masa Bakti dan Izin kerja Apoteker, yang disempurnakan dengan Peraturan Menteri kesehatan No. 184/MENKES/PER/II/1995.
    6. Peraturan Menteri Kesehatan No. 695/MENKES/PER/VI/2007 tentang perubahan kedua atas Peraturan Menteri Kesehatan No. 184 tahun 1995 tentang penyempurnaan pelaksanaan masa bakti dan izin kerja apoteker.
    7. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek.
    8. Keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia No. 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.





II.2. Tugas dan Fungsi Apotek

      Tugas dan Fungsi Apotek berdasarkan Peraturan Pemerintah No.25 tahun 1980, tugas dan fungsi apotek adalah sebagai berikut:
  • Tempat pengabdian profesi apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan.
  • Sarana farmasi yang telah melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran, dan penyerahan obat atau bahan obat.
  • Sarana penyaluran perbekalan farmasi yang harus menyalurkan obat yang diperlukan masyarakat secara luas dan merata.
  • Sebagai sarana pelayanan informasi obat dan perbekalan farmasi lainnya kepada masyarakat.
 II.3.  Persyaratan Apotek
     Untuk menciptakan sarana pelayanan kesehatan yang mengutamakan kepentingan masyarakat, maka apotek harus memenuhi syarat yang meliputi lokasi, bangunan, perlengkapan apotek, perbekalan farmasi dan tenaga kesehatan yang harus menunjang penyebaran dan pemerataan pelayanan kesehatan kepada masyarakat tanpa mengurangi mutu pelayanan. (SK Menkes RI No. 278/Menkes/SK/V/1981) .
        
II.3.1   Lokasi
          Lokasi apotek sangat berpengaruh terhadap maju mundurnya usaha, sehingga lokasi apotek sebaiknya berada di daerah yang :
a.    Ramai
b.    Terjamin keamanannya
c.    Dekat dengan rumah sakit / klinik
d.   Sekitar apotek ada beberapa dokter yang praktek
e.    Mudah dijangkau
f.     Cukup padat penduduknya

II.3.2   Bangunan
            Bangunan apotek harus mempunyai luas secukupnya dan memenuhi persyaratan teknis, sehingga dapat menjamin pelaksanaan tugas dan fungsi apotek serta memelihara mutu perbekalan kesehatan di bidang farmasi. Luas bangunan apotek sekurang-kurangnya 50 M2 terdiri dari ruang tunggu, ruang peracikan dan penyerahan obat, ruang administrasi, ruang penyimpanan obat, dan tempat pencucian alat.
Bangunan apotek harus mempunyai persyaratan teknis sebagai berikut :
a.    Dinding harus kuat dan tahan air, permukaan sebelah harus rata, tidak mudah mengelupas dan mudah dibersihkan.
b.    Langit-langit harus terbuat dari bahan yang tidak  mudah rusak dan permukaan sebelah dalam berwarna terang.
c.    Atap tidak boleh lembab, terbuat dari genteng, atau bahan lain yang memadai.
d.   Lantai tidak boleh lembab, terbuat dari ubin, semen, atau bahan lain yang memadai.
e.    Setiap apotek harus memasang papan pada bagian muka apotek, yang terbuat dari papan, seng atau bahan lain yang memadai, sekurang-kurangnya berukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tinggi huruf 5 cm dan tebal 5 mm. Papan nama harus memuat :
a)   Nama apotek
b)   Nama Apoteker Pengelola Apotek
c)   Surat Izin Apotek
d)  Alamat Apotek
e)   Nomor Telepon Apotek

II.4. Perlengkapan Apotek
Apotek harus memiliki perlengkapan sebagai berikut :
a.       Alat pembuatan, pengelolaan dan peracikan obat / sediaan farmasi.
b.      Perlengkapan dan alat penyimpanan khusus narkotika dengan ukuran 140 x 80 x 100 cm dan terbuat dari kayu.
c.       Kumpulan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan dengan apotek, Farmakope Indonesia dan Ekstra Farmakope Indonesia edisi terbaru serta buku lain yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal
II.5. Perbekalan Kesehatan di Bidang Farmasi
          Perbekalan kesehatan adalah semua bahan dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang meliputi sediaan farmasi, alat kesehatan dan perbekalan lainnya. Perbekalan kesehatan dikelola dengan memperhatikan pemenuhan kebutuhan, kemanfaatan, harga dan faktor yang berkaitan dengan pemerataan penyediaan perbekalan kesehatan. Pemerintah ikut serta dalam mem-bantu penyediaan perbekalan kesehatan yang menurut pertimbangan diperlukan oleh sarana kesehatan.
II.6. Tenaga Kesehatan
            Disamping Apoteker Pengelola Apotek (APA), di apotek sekurang-kurangnya harus mempunyai seorang tenaga kefarmasian. Bagi apotek yang Apoteker Pengelola Apotek-nya pegawai instalasi pemerintah lainnya harus ada apoteker pendamping atau tenaga teknis kefarmasian.
II.7. Struktur Organisasi
            Struktur organisasi di apotek diperlukan untuk mengoptimalkan kinerja apotek dalam pelayanan kesehatan terhadap masyarakat dan dengan adanya struktur organisasi dalam apotek maka setiap pegawai memiliki tugas dan tangung jawab masing-masing, sesuai dengan jabatan yang diberikan, serta untuk mencegah tumpang tindih kewajiban serta wewenang maka dengan adanya suatu struktur organisasi sebuah Apotek akan memperjelas posisi hubungan antar elemen orang.
II.8. Personalia
            Sikap karyawan yang baik, ramah dan cepat melayani pembeli, mengenal pasien di daerah sekeliling apotek sebanyak mungkin dapat membangkitkan kesan baik, sehingga peran karyawan sangat penting dalam laba yang diinginkan atau direncakan. Untuk mendapatkan karyawan yang baik di dalam apotek, perlu dilakukan kegiatan-kegiatan :
a.    Mengadakan pendidikan dan pelatihan bagi karyawan
b.    Mendorong para karyawan untuk bekerja lebih giat
c.    Memberi dan menempatkan mereka sesuai dengan pendidikannya
d.   Merekrut calon karyawan dan mendidik sebagai calon pengganti yang tua.
II.9. Fungsi dan Pembagian Tugas
            Di dalam sebuah apotek perlu adanya job description (uraian tugas), sehingga setiap pegawai yang bekerja mengetahui apa tugas dan tanggung jawabnya. Pembagian tugas di dalam apotek adalah sebagai berikut :
II.9.1    Apoteker
Tugas apoteker :
1.      Memimpin seluruh kegiatan apotek.
2.      Mengatur, melaksanakan dan mengawasi administrasi yang meliputi :
a)    Administrasi kefarmasian
b)   Administrasi keuangan
c)    Administrasi penjualan
d)   Administrasi barang dagangan atau inventaris
e)    Administrasi personalia
f)    Administrasi bidang umum
3.      Membayar pajak yang berhubungan dengan perapotekan.
4.      Mengusahakan agar apotek yang dipimpinnya dapat memberikan hasil yang optimal sesuai dengan rencana kerja.
Tanggung jawab Apoteker : apoteker bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup apotek yang dipimpinnya dan bertanggung jawab kepada pemilik modal.
II.9.2 Koordinator Kepala
Tugas Koordinator Kepala yaitu :
1.      Mengkoordinir dan mengawasi kerja bawahannya termasuk mengatur daftar giliran dinas, pembagian tugas dan tanggung jawab (narkotika, pelayanan dokter dan kartu stock di lemari masing-masing)
2.      Secara aktif berusaha sesuai dengan bidang tugasnya untuk meningkatkan atau mengembangkan hasil usaha apotek.
3.      Mengatur dan mengawasi penyimpanan dan kelengkapan obat sesuai dengan teknis farmasi terutama di ruang peracikan.
4.      Memelihara buku harga dan kalkulasi harga obat yang akan dijual sesuai dengan kebijaksanaan harga yang telah ditentukan.
5.      Membina serta memberi petunjuk soal teknis farmasi kepada bawahannya, terutama pemberian informasi kepada pasien.
6.      Bersama-sama dengan tata usaha mengatur dan mengawasi data-data administrasi untuk penyusunan laporan managerial dan laporan pertanggungjawabannya.
7.      Mempertimbangkan usul-usul yang diterima dari bawahannya serta meneruskan atau mengajukan saran-saran untuk perbaikan pelayanan dan kemajuan apotek kepada pemimpin apotek.
8.      Mengatur dan mengawasi pengamanan uang penghasilan tunai setiap hari.
9.      Mengusulkan penambahan pegawai baru, penempatan, kenaikan pangkat, peremajaan bagi karyawan bawahannya kepada pemimpin apotek.
10.  Memeriksa kembali :
a.       Resep-resep yang telah dilayani
b.      Laporan-laporan obat yang harus ditandatangani oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA).
            Tanggung jawab Koordinator Kepala : Koordinator Kepala ber-tanggung jawab penuh kepada pemimpin apotek (Apoteker Pengelola Apotek) atas pelaksanaan tugas dan fungsinya sebagai asisten Kepala.
II.9.3. Tenaga teknis kefarmasian
Tugas tenaga teknis kefarmasian adalah :
1. Mengerjakan pekerjaan sesuai dengan profesinya, yaitu :
a.       Dalam pelayanan obat bebas dan resep (mulai dari menerima resep dari pasien sampai menyerahkan obat yang diperlukan)
b.      Menyusun buku defecta setiap pagi (membantu bagian pembeli), memelihara buku harga sehingga selalu benar dan rapi
c.       Mencatat dan membuat laporan keluar masuknya obat.
d.      Menyusun resep-resep menurut nomor urut dan tanggal, digulung kemudian disimpan
e.       Memelihara kebersihan ruang peracikan, lemari obat, gudang dan rak obat
2.    Dalam hal darurat, dapat menggantikan pekerjaan sebagai  kasir, penjual obat bebas dan juru resep.
        Tenaga teknis kefarmasian bertanggung jawab kepada asisten kepala sesuai dengan tugasnya, artinya bertanggung jawab atas kebenaran segala tugas yang diselesaikannya, tidak boleh ada kesalahan, kekeliruan, kekurangan, kehilangan dan kerusakan. (Anief.M,2003)
II.9.4    Tata Usaha (Keuangan)
            Tugas Kepala Tata Usaha, yaitu :
1)      Mengkoordinir dan mengawasi kerja.
2)      Membuat laporan harian, diantaranya :
a)        Pencatatan penjualan kartu kredit (kartu titan).
b)        Pencatatan pembelian (kartu hutang) dicocokkan dengan buku penerimaan barang.
c)    Pencatatan hasil penjualan, tagihan dan pengeluaran setiap hari.
3)      Dinas luar mengurus pajak, izin-izin, dan asuransi.
4)      Membuat laporan bulanan.
5)      Membuat laporan tahunan tutup buku (neraca dan perhitungan rugi laba).
6)      Surat menyurat.          
            Kepala tata usaha bertanggung jawab kepada apoteker pengelola apotek.
II.9.5    Pemegang Kas (Kasir)
            Tugas kasir adalah :
a.       Mencatat penerimaan uang setelah dihitung terlebih dahulu, begitu pula dengan  pengeluaran uang, yang harus dilengkapi pendukung berupa kwitansi dan nota yang sudah diparaf oleh pengelola apotek dan pejabat yang ditunjuk.
b.      Menyetorkan dan mengambil uang, baik dari kasir besar atau bank.
            Tanggung jawab Kasir : Kasir bertanggungjawab atas kebenaran jumlah uang yang dipercayakan kepadanya dan bertanggung jawab langsung kepada pengelola apotek.




2.10   Kegiatan Apotek
            Untuk mencapai tujuan yang maksimal di dalam suatu apotek harus dilakukan pengolahan yang baik, meliputi :
1.      Pembuatan, pengolahan, peracikan, pencampuran, penyimpanan, penyaluran dan penyerahan obat atau bahan obat.
2.      Pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan penyerahan perbekalan farmasi lainnya
3.      Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi lainnya, yaitu :
a.       Pelayanan informasi tentang obat dan perbekalan farmasi diberikan baik kepada dokter dan tenaga-tenaga kesehatan lainnya maupun kepada masyarakat.
b.      Pengamatan dan pelaporan informasi mengenai khasiat, keamanan, bahaya sautu obat dan perbekalan lainnya.
2.11      Kegiatan Teknis farmasi
2.11.1   Pengadaan Barang (Pembelian)
            Berhasil tidaknya tujuan usaha tergantung kepada  kebijaksanaan pembelian. Pembelian harus menyesuaikan dengan hasil penjualan sehingga ada keseimbangan antara penjualan dan pembelian. Selain itu harus sesuai dan cukup ekonomis dilihat dari segi penggunaan dana yang tersedia.
Dalam melakukan pembelian harus memperhitungkan faktor-faktor :
1.      Waktu pembelian
      Hal yang paling utama untuk menentukan waktu pembelian yaitu keadaan persediaan barang, oleh karena  itu sebelum persediaan habis pembelian harus sudah dilakukan

2.      Lokasi apotek
            Apotek yang terletak di kota-kota besar yang terdapat banyak PBF sangat mudah untuk melakukan pembelian, dibandingkan dengan lokasi apotek di daerah terpencil, sehingga pembelian dapat dilakukan pada saat barang hampir habis.
3.      Frekuensi dan Volume Pembelian
            Makin kecil volume barang yang dibeli, maka makin tinggi frekuensinya dalam melakukan pembelian, sehingga akan memperbanyak pekerjaan barang masuk dari pembeli, baik kontan maupun kredit. Pembelian harus berencana, disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan di apotek tersebut. Jenis obat yang diperlukan dapat dilihat dari buku defecta, baik dari bagian penerimaan resep atau obat bebas maupun dari petugas gudang.
a)      Prosedur Pembelian meliputi :
(1)   Persiapan
            Yaitu pengumpulan data obat-obat yang dipesan, data tersebut diperoleh dari buku defecta, racikan maupun gudang.
(2)  Pemesanan
            Untuk setiap pemesanan sebaiknya disiapkan minimal rangkap dua, satu untuk supplier yang dilampirkan dengan faktur pada waktu mengirim barang, dan yang satu untuk mengontrol kiriman barang yang kita pesan.
(3)  Penerimaan
            Petugas penerima barang harus mencocokkan dengan faktur dan surat pesanan. Apabila ada tanggal kadaluarsa dicatat dalam buku tersendiri.
(4)   Penyimpanan
            Barang/obat disimpan ditempat yang aman, tidak terkena sinar matahari langsung. Untuk narkotika didalam lemari khusus dan obat-obat yang mudah rusak pada suhu ruang sebaliknya disimpan didalam lemari es.
(5)   Pencatatan
            Dari faktur disalin dalam buku penerimaan barang yang mencakup nama supplier, nama obat, banyaknya, harga satuan, potongan harga, nomor urut dan harga. Setiap haari dijumlah, sehingga diketahui banyaknya hutang. Faktur-faktur kemudian diserahkan kepada tata usaha untuk diperiksa, lalu dibundel untuk menunggu waktu jatuh tempo.
(6)   Pembayaran
            Barang yang sudah diterima dibayar pada saat jatuh tempo. Setelah faktur dikumpulkan lalu masing-masing dibuatkan bukti kas keluar serta cheque / giro, kemudian diserahkan kepada kasir besar untuk ditandatagani oleh pimpinan sebelum dibayarkan kepada supplier.
b)      Sistem Pengadaan Barang (Pembelian)
·         Pembelian tetap (Stable Purchase Level)
                 Merupakan pembelian dalam jumlah yang tetap dengan menggunakan sistem kontrak. Distributor mengirim barang tiap bulan dalam jumlah yang tetap. Kerugiannya adalah stock barang akan menumpuk bola omzet penjualan menurun.
·         Stock tetap (Stable Inventory Level)
           Merupakan pembelian dalam jumlah terbatas. Pembelian ini dilakukann hanya untuk menjaga stock digudang tetap. Kerugiannya adalah apabila omzet penjualan meningkat, ada kemungkinan permintaan tidak dapat terpenuhi. Hal ini dilakukan bila dana terbatas dan PBF berada dalam satu kota.
            Pembelian dan stock fleksibel (Flexible Purchase and Inventory Level) Merupakan pembelian dengan jumlah yang tidak tetap, disesuaikan dengan kebutuhan tergantung situasi dan kondisi. Pengawasan stock obat atau barang melalui kartu stock sangat penting, dengan demikian dapat diketahui persediaan yang telah habis dan yang kurang laku.
Pembelian juga dapat dilakukan dengan cara :
(1)   Hand to Mouth Buying
            Yaitu pembeliaan dalam jumlah terbatas sesuai dengan  kebutuhan, hal ini dilakukan bila dana terbatas dan P.B.F. berada dalam satu kota.
(2)  Pembeliaan secara spekulasi
            Pembeliaan ini dilakukan dalam jumlah yang lebih besar dari kebutuhan, dengan harapan akan ada kenaikan harga dalam waktu dekat atau karena adanya diskon atau bonus.
(3)   Pembelian berencana
            Pembelian berencana sangat berkaitan dengan pengendalian persediaan barang, pembelian berencana dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu:
-        Membandingkan jumlah pembelian dengan penjualan tiap bulan.
-        Dengan melihat kartu stock untuk mengontrol mutasi obat dan persediaan lain.
-        Economic Order Quality (EQQ)



2.11.2         Penyimpanan Barang
     Obat atau barang dagangan yang sudah dibeli tidak semuanya langsung dijual, oleh karena  itu harus disimpan dalam gudang terlebih dahulu dengan tujuan antara lain :
1)    Tidak dapat terkena sinar matahari langsung.
2)    Cukup almari, kuat dan dapat dikunci dengan baik.
3)    Tersedia rak yang cukup baik.
4)    Merupakan ruang tersendiri dalam komplek apotek.
     Obat yang disimpan dalam gudang tidak diletakkan begitu saja, tetapi disimpan menurut golongannya, yaitu :
1)   Bahan baku disusun secara abjad dan dipisahkan antara serbuk, setengah padat, bentuk cairan yang mudah menguap agar disendirikan.
2)   Obat jadi disusun menurut abjad, menurut pabrik atau menurut persediaannya.
3)   Sera, vaksin dan obat-obatan uang mudah rusak atau mudah meleleh disimpan di kamar atau disimpan di lemari es.
4)   Obat-obat narkotika disimpan di lemari khusus sesuai dengan persyaratan
5)   Obat-obat psikotropika (OKT) sebaiknya disimpan tersendiri.
            Akhir-akhir ini sudah menjadi mode digunakannya lemari obat berbentuk rumah lebah, dan berkotak-kotak. Selain menghemat ruang, tempat kerja pun menjadi rapih dan bersih. Rak-rak obat dapat terbuat dari kayu dan besi.
            Penyusunan obat dipakai sistem FIFO (First in First Out), artinya obat-obatan yang masuk terlebih dahulu ke gudang, terlebih dahulu keluarnya. Jadi yang terlebih dahulu masuk diletakkan di depan sedangkan yang terakhir masuk diletakkan dibelakang. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan obat yaitu :
1.Pencatatan tanggal kadaluarsa setiap macam obat terutama obat antibiotika, sebaiknya dicatat dalam buku tersendiri
2.Untuk persediaan obat yang telah menipis jumlahnya perlu dicatat dalam buku defecta, yang nantinya diberitahukan kepada bagian yang bertanggungjawab dalam hal pembelian. (Wijayanti.N,1990)
2.11.3    Pelayanan Kefarmasian (Penjualan)
            Dalam melakukan pelayanan suatu apotek seharusnya mempunyai motto:
1.    Pembeli adalah raja, yang harus dilayani sebaik mungkin.
2.    Pembeli yang membawa resep dokter ke apotek harus diusahakan semaksimal mungkin sehingga mau menebus obatnya di apotek tersebut, dengan kata lain yang masuk keluarnya harus obat.
3.    Pembeli apapun di apotek harus diusahakan agar mereka menjadi pembeli apotek tersebut.
         Sebuah apotek perlu memperhatikan hal-hal yang dapat menarik para pembeli obat, antara lain dengan ruang tunggu yang diatur dengan baik, menyenangkan, penerangan yang cukup pada malam hari, pelayanan yang ramah, baik dan cepat. Pelayanan di apotek meliputi pelayanan resep dan non resep.
a.       Pelayanan non Resep
            Obat-obat bebas membutuhkan penataan di lemari etalase secara farmakologis atau berdasarkan khasiat obat. Hal-hal penting yang harus diperhatikan adalah :
a)         Harga harus bersaing dengan toko-toko obat di sekitarnya, kurang lebih 10% - 15% dari harga pembelian.
b)        Penyetokan dilakukan dengan cara stock tetap yang sering disebut moeder stock, yaitu obat tertentu harganya tetap.
b.      Pelayanan Resep
            Resep obat adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Apotek wajib melayani resep dokter, dokter gigi dan dokter hewan. Pelayanan resep sepenuhnya atas tanggung jawab apoteker pengelola apotek.  Dalam hal pasien tidak mampu menebus obat yang ditulis dalam resep, apoteker wajib berkonsultasi dengan dokter untuk pemilihan obat alternatif.
            Apoteker wajib memberi informasi yang berkaitan dengan penggunaan obat yang diserahkan kepada pasien.  Informasi meliputi cara penggunaan obat, dosis dan frekuensi pemakaian, lamanya obat digunakan indikasi, kontra indikasi, kemungkinan efek samping dan hal-hal lain yang diperhatikan pasien.  Apabila apoteker menganggap dalam resep terdapat kekeliruan atau penulisan resep yang tidak tepat, harus diberitahukan kepada dokter penulis resep.  Bila karena pertimbangannya dokter tetap pada pendiriannya, dokter wajib membubuhkan tanda tangan atas resep.  Salinan resep harus ditanda tangani oleh apoteker.
            Pelayanan resep didahului proses skrining resep yang meliputi pemeriksaan kelengkapan resep, keabsahan dan tinjauan kerasionalan obat. Resep yang lengkap harus ada nama, alamat dan nomor ijin praktek dokter, tempat dan tanggal resep, tanda R pada bagian kiri untuk tiap penulisan resep, nama obat dan jumlahnya, kadang-kadang cara pembuatan atau keterangan lain (iter, prn, cito) yang dibutuhkan, aturan pakai, nama pasien, serta tanda tangan atau paraf dokter.

            Tinjauan kerasionalan obat meliputi pemeriksaan dosis, frekuensi pemberian, adanya polifarmasi, interaksi obat, karakteristik penderita atau kondisi penyakit yang menyebabkan pasien menjadi kontra indikasi dengan obat yang diberikan.
            Peracikan merupakan kegiatan menyiapkan, mencampur, mengemas dan memberi etiket pada wadah.  Pada waktu menyiapkan obat harus melakukan perhitungan dosis, jumlah obat dan penulisan etiket yang benar.  Sebelum obat diserahkan kepada penderita perlu dilakukan pemeriksaan akhir dari resep meliputi tanggal, kebenaran jumlah obat dan cara pemakaian.  Penyerahan obat disertai pemberian informasi dan konseling untuk penderita beberapa penyakit tertentu. (Mulyani Bunyamin.I, 2007)
            Resep merupakan sarana pengubung antara dokter sebagai pemeriksa / pendekteksi penyakit, penderita dengan apoteker sebagai pengelola Apotek. Sehingga memerlukan pengetahuan khusus sesuai dengan prosedur yang berlaku, maka dokter sebagai penulis resep harus mendalami peraturan perundang undangan tentang obat-obatan (S.P Men Kes RI No. 193/Keb/BVII/71.
            Apabila dalam suatu resep terdapat kekeliruan atau penu-lisan resep yang tidak tetap sehingga dapat membahayakan pasien, maka apoteker harus memberitahukan kepada dokter penulis resep dan jika tidak dapat dihubungi penyerahan obat dapat ditunda.
            Agar dalam melayani lebih maksimal, sebaiknya seorang Tenaga teknis kefarmasian jangan mengerjakan lebih dari 100 resep setiap hari dinasnya yang biasanya berkisar antara 6-7 jam. Penjualan obat melalui resep dapat dilakukan dengan alur sebagai berikut :
1.             Pasien membawa resep diserahkan kepada Apoteker / AA
2.             Apoteker / AA
1)    Mengontrol apakah resepnya syah dan lengkap
2)    Mengontrol apakah dosis sesuai atau belum
3)    Mengontrol harga obatnya
2.11.4    Pengelolaan Apotek (UU RI No. 22.1997)
a.       Produksi
            Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan perubahan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi, sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan. Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, serta menjamin ketersediaan obat narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan atau pengembangan ilmu pengetahuan.
            Untuk keperluan ketersediaan narkotika setiap tahun, Menteri Kesehatan memberikan izin khusus untuk memproduksi narkotika kepada Apotek yang telah memiliki izin sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melakukan pengendalian tersendiri dalam pelaksanaan pengawasan terhadap proses produksi, bahan baku narkotika dan hasil akhir dari proses produksi narkotika.
b.      Peredaran
            Setiap kegiatan dalam rangka peredaran narkotika wajib dilengkapi dengan dokumen yang syah. Peredaran narkotika meliputi setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan penyerahan narkotika baik dalam rangka perdagangan, bukan perdagangan, pemindah tangan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan pengetahuan. Narkotika dalam bentuk obat jadi hanya dapat diedarkan setelah terdaftar pada  Departemen Kesehatan.
            Penyerahan narkotika hanya dapat dilakukan oleh apotek, rumah sakit dan dokter. Penyerahan narkotika kepada pasien hanya dapat dilakukan berdasarkan resep dokter. Resep yang mengandung narkotika harus dipisahkan dan disimpan tersendiri dari resep yang lain.
c.       Penyimpanan
            Setiap apotek harus mempunyai tempat khsus untuk menyimpan obat-obatan yang mengandung narkotika. Tempat khusus tersebut seluruhnya harus terbuat dari bahan kayu atau bahan lain yang kuat serta dilengkapi dengan kunci pengaman.
            Untuk obat-obatan lainnya, sistem penyimpanannya disusun berdasarkan abjad dari nama obat tersebut ataupun berdasarkan nama pabrik obat yang memproduksi obat-obatan tersebut, sedangkan obat-obatan lainnya yang memerlukan perlakuan khusus pada proses penyimpanannya seperti pada tempat yang bersuhu dingin haruslah disimpan dalam lemari es yang khusus menyimpan obat-obatan jenis ini. Obat yang disimpan pada tempat penyimpanan sebaiknya dilengkapi dengan kartu stock guna mempermudah pendataan dari obat-obat yang telah dikeluarkan dari tempat persediaan.
2.12     Kegiatan Non Teknis Kefarmasian
2.12.1    Pembukuan
            Pembukuan diperlukan untuk menampung seluruh kegiatan perusahaan dan mencatat transaksi-transkasi yang telah dilaksanakan. Buku-buku harian yang diperlukan antara lain :
a.       Buku bank
b.      Buku kassss
c.       Buku permintaan barang apotek
d.      Buku penerimaan barang
e.       Buku laporan penjualan apotek
f.       Buku pembelian
g.      Buku penjualan pedangan besar
            Tenaga pembukuan yang benar-benar mengerti dalam bidang pembukuan sangat diperlukan dalam sebuah apotek, karena pada tiap akhir tahun harus menyiapkan acara per tanggal 31 Desember dan perhitungan laba rugi.
2.12.2         Pelaporan
            Untuk memudahkan dalam penulisan laporan yang akan dilaporkan kepada Kantor Wilayah Departemen Kesehatan maka untuk obat narkotika diadakan stock opname setiap sebulan sekali pada tanggal satu dan dibuat laporannya sebanyak tiga rangkap yang ditunjukan ke Dinas Kesehatan Kota, serta tembusan ke Dinas Kesehatan Propinsi dan Badan POM sediaan lainnya diadakan stock opname setiap setahun sekali tiap akhir tahun.
            Apoteker Pengelola Apotek (APA) menyusun resep yang telah dikerjakan menurut urutan tanggal dan nomor urut penerimaan resep. Resep harus disimpan setiap sekurang-kurangnya selama tiga tahun. Resep yang mengandung narkotika harus dipisahkan dari resep lain. Untuk pelaporan resep harus dituliskan jumlah resep yang masuk dengan mencantumkan harga dari masing-masing resep. Resep yang telah disimpian melebihi jangka waktu penyimpanan dapat dimusnahkan dan dibuat berita acaranya.

II.13. Manajemen Apotek
Manajemen Apotek, adalah manajemen farmasi yang diterapkan di apotek. Sekecil apapun suatu apotek, sistem manajemennya akan terdiri atas setidaknya beberapa tipe manajemen, yaitu :
1.      Manajemen keuangan
2.      Manajemen pembelian
3.       Manajemen penjualan
4.      Manajemen Persediaan barang
5.      Manajemen pemasaran
6.      Manajemen khusus

Manajemen keuangan tentunya berkaitan dengan pengelolaan keuangan, keluar masuknya uang, penerimaan, pengeluaran, dan perhitungan farmako ekonominya.
Manajemen pembelian meliputi pengelolaan defekta, pengelolaan vendor, pemilihan item barang yang harus dibeli dengan memperhatikan FIFO dan FEFO, kinetika arus barang, serta pola epidemiologi masyarakat sekitar apotek.
Manajemen penjualan meliputi pengelolaan penjualan tunai, kredit, kontraktor.
Manajemen persediaan barang meliputi pengelolaan gudang, persediaan bahan racikan, kinetika aarus barang. Manajemen persediaan barang berhubungan langsung dengan manajemen pembelian.
Manajemen pemasaran , berkaitan dengan pengelolaan dan teknik pemasaran untuk meraih pelanggan sebanyak-banyaknya. Manajemen pemasaran ini tampak padaapotek modern, tetapi jarang diterapkan pada apotek-apotek konvensional.
Manajemen khusus, merupakan manajemen khas yang diterapkan apotek sesuai dengan kekhasannya, contohnya pengelolaan untuk apotek yang dilengkapi dengan laboratorium klinik, apotek dengan swalayan, dan apotek yang bekerjasama dengan balai pengobatan, dan lain-lain.

























BAB III
PENUTUP


A.                      KESIMPULAN
1.      Apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran perbekalan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat.
2.      Sistem Manajemen di Apotek
             Manajemen Apotek, adalah manajemen farmasi yang diterapkan di apotek. Sekecil apapun suatu apotek, sistem manajemennya akan terdiri atas setidaknya beberapa tipe manajemen, yaitu :
1)      Manajemen keuangan
2)      Manajemen pembelian
3)      Manajemen penjualan
4)      Manajemen Persediaan barang
5)      Manajemen pemasaran
6)      Manajemen khusus
3.      Struktur Organisasi yang ada di Apotek terdiri dari
-              Direktur / Pemilik Apotek
-              Kepala / Pengelola Apotek
-              Tenaga Teknis Kefarmasian (Asisten Apoteker)
-              Bagian Penjualan
-              Bagian Gudang
-              Bagian pembelian
4.         Fungsi dan Personalia di Apotek adalah :
-             Koordinator Kepala bertugas Secara aktif berusaha sesuai dengan bidang tugasnya untuk meningkatkan atau mengembangkan hasil usaha apotek, mengatur dan mengawasi penyimpanan serta kelengkapan obat sesuai dengan teknis farmasi terutama di ruang peracikan.
-            Seorang Apotek bertugas untuk memimpin seluruh kegiatan apotek.  Serta mengatur, melaksanakan dan mengawasi administrasi.
-            Tenaga Teknis Kefarmasian (Asisten Apoteker) bertugas untuk mengerjakan pekerjaan sesuai dengan profesinya


B.                       SARAN
1.      Semoga makalah ini bisa memberi pengetahuan yang mendalam kepada para mahasiswa khususnya pengetahuan mengenai Aminoglikosida.
2.      Semoga makalah ini bisa dimanfaatkan dan dipergunakan dengan sebaik-baiknya.














DAFTAR PUSTAKA


AS/NZS 4360:2004, Australian/New Zealand Standard Risk Management,
Joint Technical Committee OB-007 Risk Management, 31 Agustus 2004. Di akses pada tanggal 19 Mei 2013
Artikel “Landasan Teori Asset Manajemen”, Website Manajemen Asset,
2007.  Di akses pada tanggal 19 Mei 2013
Artikel “Lifecycle Asset Management” Website Manajemen Asset, 2007 Di akses pada tanggal 26 Mei 2013
akses pada tanggal 19 Mei 2013
Di akses pada tanggal 26 Mei 2013
fathelvi.wordpress.com/pekerjaan-farmasi-di-apotek-dan-manajemen-apotek
Di akses pada tanggal 25 Mei 2013
            Quick, et al., 1997, Managing Drug Suply, 2nd Edition, Amerika: Kumarin
Press.