Senin, 16 April 2012

Larutan (solutio)

BAB I
PEMBAHASAN

I.     LARUTAN

 A. Pengertian

Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu jenis obat atau lebih dalam pelarut air suling kecuali dinyatakan lain, dimaksudkan untuk pemakaian obat dalam, obat luar atau untuk dimasukkan dalam rongga tubuh

B. Contoh Sediaan farmasi yang berupa larutan

1.      Collutaria adalah larutan pekat dalam air yang mengandung bahan deodorant, antiseptika, anestetika local atau astrigen. Disimpan dalam botol putih, bermulut kecil. Etiket harus ditulis : tidak boleh ditelan. Untuk cuci mulut dan disebut pula cara pengencerannya
2.      Collyria adalah sediaan berupa steril, jernih, bebas partikel asing, isotonis dan digunakan untuk mencuci mata, dapat ditambahkan larutan dapar dan pengawet
3.      Elixir adalah sediaan berupa larutan obat dengan zat tambahan seperti gula, zat pengawet, zat warna dan zat pengaroma. Sebagai pelarut utama digunakan alcohol 90 % dan dapat ditambahkan gliserol, propilenglikol dan sorbitol. Karena elixir bersifat hidroalkohol maka dapat menjaga obat baik yang larut dalam air dan etanol.
4.      Gargarisma ialah sediaan berupa larutan. Umumnya pekat dan bila digunakan diencerkan dulu. Gargarisma digunakan sebagai pencegah ataupengobatan infeksi tenggorokan.
5.      Potiones adalah cairan yang berupa cairan untuk diminum, dibuat sedemikian rupa hingga dapat digunakan sebagai dosis tunggal dalam volume yang besar umunya, 50 ml
6.      Sirupi adalah larutan pekat dari gula yang ditambahkan obat atau zat pewangi dan merupakan larutan jernih berasa manis.                                                                                                                                                                                           
7.      Mixtura dan solution tidak ada perbedaan yang prinsip dalam pengerjaan, hanya dikatakan larutan (solution) apabila zat yang terlarut hanya satu atau disebut  mixture apabila zat yang terlarut adalah banyak. Contoh Solutio Citratis Magnesici dan Mixtura Bromoterum
8.      Tetes telinga adalah cairan yang dibuat untuk digunakan membersihkan telinga atau melunakkan secret telinga sehingga mudah dikeluarkan.
9.      Larutan cuci hidung adalah cairan yang dibuat dalam jumlah yang banyak untuk digunakan membersihkan hidung

Dalam melarutkan suatu zat biasanya melewati kelarutannya atau zat tersebut sukar larut dalam pelarut maka diperlukan penambah kelarutan yang dikenal dengan nama kosolven. Kosolven yang biasa digunakan adalah gliserin, propilenglikol dan sorbitol.

C. Keuntungan bentuk sediaan larutan
1.      Merupakan campuran homogen
2.      Dosis dapat mudah diubah-ubah dalam pembuatannya.
3.      Dapat diberikan dalam bentuk larutan yang encer, sedangkan kapsul dan tablet sulit diencerkan.
4.      Kerja awal obat lebih cepat karena obat cepat terabsorpsi.
5.      Mudah diberi pemanis, pengaroma dan warna dan hal ini cocok untuk pemberian obat pada anak-anak.
6.      Untuk pemakaian luar bentuk larutan mudah digunakan.

D. Kerugiaan bentuk sediaan larutan
1.      Volume bentuk larutan lebih besar
2.      Ada obat yang tidak stabil dalam bentuk larutan.
3.      Ada obat yang sukar ditutupi rasa dan baunya dalam larutan

E. Cara pembuatan larutan
1.      Zat-zat yang mudah larut, dilarutkan dalam botol.
2.      Zat-zat yang sukar larut dilarutkan dengan pemanasan.
3.      Masukkan zat padat yang akan dilarutkan dalam Erlenmeyer, setelah itu dimasukkan zat pelarutnya, dipanasi diatas tangas air atau api bebas dengan digoyang-goyang sampai larut.
4.      Untuk zat yang akan terbentuk hidrat maka air dimasukkan dulu dalam Erlenmeyer agar tidak terbentuk senyawa hidrat yang lebih lambat larutnya. Zat-zat tersebut adalah Glucosum, Borax dan Natrii Bromidum.
5.      Untuk zat yang mudah terurai pada pemanasan tidak boleh dilarutkan dengan pemanasan dan dilarutkan secara dingin. Contohnya Natrii Bicarbonas, Chloralihydras dsb
6.      Zat-zat yang mudah menguap bila dipanasi, dilarutkan dalam botol tertutup dan dipanaskan dengan suhu serendah-rendahnya sambil digoyang-goyangkan. Cotohnya Camphora, Thymolum. Acidum Benzoicum dan Asam salisilat.
7.      Obat-obat keras harus dilarutkan tersendiri untuk menyakinkan terlarutnya semua.
8.      Pemanasan hanya dilakukan untuk mempercepat kelarutan bukannya untuk membantu kelarutan, karena bila suhunya telah dingin maka zat terlarut dapat mengendap.
9.      Cairan yang diserahkan harus jernih sehingga bila terdapat kotoran hendaknya disaring terlebih dahulu. Untuk larutan obat minum penyaringan dilakukan dengan menggunakan kapas hidrofil sedangkan untuk cuci mata atau tetes mata digunakan kertas saring yang cocok

F. Persen dinyatakan dengan 4 cara sebagai berikut yaitu :
1.      b/b% adalah persen bobot per bobot, yaitu jumlah g zat dalam 100 g bahan atau hasil akhir (larutan atau campuran).
2.      b/v% adalah persen bobot per volume, yaitu jumlah g zat dalam 100 ml bahan atau hasil akhir (air atau pelrut lain).
3.      v/v% adalah persen volume per volume yaitu jumlah ml zat dalam 100 ml bahan atau hasil akhir (larutan).
4.      v/b% adalah persen volume per bobot. Yaitu jumlah ml zat dalam 100 g bahan atau hasil akhir.

G. Istilah kelarutan
1.      Sangat mudah larut     kurang dari 1
2.      Mudah larut                 1 sampai 10
3.      Larut                            10 sampai 30
4.      Agak sukar larut          30 sampai 100
5.      Sukar larut                   100 sampai 1000
6.      Sangat sukar larut        1000 sampai 10.000
7.      Praktis tidak larut        lebih dari 10.000


H.  Aturan pemakaian obat dalam bentuk sediaan larutan
Berikut Aturan pemakaian untuk sediaan larutan yang berbentuk syrup :
1.      Untuk obat berbentuk sirup, pasien dapat langsung mengkonsumsi obat tersebut tanpa harus di kocok terlebih dahulu. Karena syrup ini dapat dengan mudah di adsorbsi dalam tubuh. Terkecuali untuik obat syrup yang berupa suspensi yang haruslah di kocok terlebih dahulu.  Obat yang berbentuk larutan syrup ini sebaiknya jangan disimpan sampai berbulan-bulan apabila kemasan telah terbuka karena akan menyebabkan kerusakan pada obat tersebut.

I.     Contoh obat dalam bentuk sediaan larutan yang ada di pasaran :
1.      Sanmol Syrup
2.      Betadin
3.      Listerin
4.      Vasedon
5.      Phenergan(Promethazine Elixir)
6.      Bisolvon Kidds
7.      Benadryl
8.      Cinaryl
9.      Corex
10.  Chericof
11.  Cosome
12.  Deletes
13.  Tixylix
14.  Zeet Expectorant
15.  Bodrexin syrup

II.  SUSPENSI
A. Pengertian
Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. Suspensi terdiri dari beberapa jenis yaitu :
1.      Suspensi Oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditujukkan untuk penggunaan oral.
2.      Suspensi Topikal adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukkan untuk penggunaan pada kulit.
3.      Suspensi Optalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa yang ditujukkan untuk penggunaan pada mata.
4.      Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair yang mengandung partikel-partikel halus yang ditujukkan untuk diteteskan pada telinga bagian luar.
5.      Suspensi untuk injeksi adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikan secara intravena atau kedalam saluran spinal.
6.      Suspensi untuk injeksi terkontinyu adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai.


B. Stabilitas Suspensi
Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari pertikel. Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Beberapa faktor yang mempengaruhi stabiltas suspensi adalah :
1. Ukuran Partikel
Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Sedangkan antar luas penampang dengan daya tekan keatas merupakan hubungan linier. Artinya semakin besar ukuran partikel maka semakin kecil luas penampangnya.
2. Kekentalan / Viskositas
Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut, makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). Hal ini dapat dibuktikan dengan hukum ” STOKES”
3. Jumlah Partikel / Konsentrasi
Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar, maka partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi benturan antara partikel tersebut.
Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat tersebut, oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel, makin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat.
4. Sifat / Muatan Partikel
Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam campuran bahan yang sifatnya tidak terlalu sama. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut. Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alami, maka kita tidak dapat mempengruhi.
Ukuran partikel dapat diperkecil dengan menggunakan pertolongan mixer, homogeniser, colloid mill dan mortir. Sedangkan viskositas fase eksternal dapat dinaikkan dengan penambahan zat pengental yang dapat larut kedalam cairan tersebut. Bahan-bahan pengental ini sering disebut sebagai suspending agent (bahan pensuspensi), umumnya besifat mudah berkembang dalam air (hidrokoloid).

Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu :
1. Bahan pensuspensi dari alam.
Bahan pensuspensi dari alam yang biasanya digunakan adalah jenis gom / hidrokoloid. Gom dapat larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk mucilago atau lendir. Dengan terbentuknya mucilago maka viskositas cairan tersebut bertambah dan akan menambah stabilitas suspensi. Kekentalan mucilago sangat dipengaruhi oleh panas, PH, danproses fermentasi bakteri. Termasuk golongan gom, contohnya : Acasia ( Pulvis gummi arabici), Chondrus, Tragacanth, Algin. Golongan bukan gom, contohnya : Bentonit, Hectorit dan Veegum.
2. Bahan pensuspensi sintesis
a. Derivat Selulosa
b. Golongan organik polimer

CCara Mengerjakan Obat Dalam Suspensi
1.      Metode pembuatan suspensi, suspensi dapat dibuat dengan cara yaitu Metode Dispersi dan Metode Precipitasi
2.      Sistem pembentukan suspensi yaitu Sistem flokulasi dan Sistem deflokulasi
Dalam system flokulasi, partikel terflokulasi adalah terikat lemah, cepat mengendap dan mudah tersuspensi kembali dan tidak membentuk cake. Sedangkan pada system Deflokulasi, partikel terdeflokulasi mengendap perlahan – lahan dan akhirnya akan membentuk sendimen dan terjadi agregasi dan selanjutnya cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali.
Secara umum sifat-sifat dari partikel flokulasi dan deflokulasi adalah :
a. Deflokulasi
·         Partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain.
·         Sedimentasi yang terjadi lambat masing-masing patikel mengendap terpisah dan ukuran partikel adalah minimal.
·          Sediaan terbentuk lambat.
·         Diakhir sedimen akan membentuk cake yang keras dan sukar terdispersi lagi
b. Flokulasi
·         Partikel merupakan agregat yang basa
·         Sedimentasi terjadi begitu cepat
·         Sedimen tidak membentuk cake yang keras dan padat dan mudah terdispersi kembali seperti semula.

D. Formulasi suspensi
Membuat suspensi stabil secara fisis ada 2 kategori :
1.      Pada penggunaan ”Structured Vehicle” untuk menjaga partikel deflokulasi dalam suspensi Structured Vehicle, adalah larutan hidrokoloid seperti tilose, gom, bentonit, dan lain-lain.
2.      Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membentuk flok, meskipun terjadi cepat pengendapan, tetapi dengan pengocokan ringan mudah disuspensikan kembali.
Pembuatan suspensi sistem flokulasi ialah :
a.       Partikel diberi zat pembasah dan dispersi medium.
b.      Lalu ditambah zat pemflokulasi, biasanya berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer.
c.       Diperoleh suspensi flokulasi sebagai produk akhir.
d.      Apabila dikehendaki agar flok yang terjadi tidak cepat mengendap, maka ditambah Structured Vehicle.
e.       Produk akhir yang diperoleh ialah suspensi flokulasi dalam Structured Vehicle.

E. Penilaian Stabilitas Suspensi
1.      Volume sedimentasi
      Adalah Suatu rasio dari volume sedimentasi akhir (Vu) terhadap volume mula mula dari suspensi (Vo) sebelum mengendap.
2.      Derajat flokulasi.
      Adalah Suatu rasio volume sedimentasi akhir dari suspensi flokulasi (Vu) terhadap volume sedimentasi akhir suspensi deflokulasi (Voc).
3.      Metode reologi
      Berhubungan dengan faktor sedimentasi dan redispersibilitas, membantu menemukan perilaku pengendapan, mengatur vehicle dan susunan partikel untuk tujuan perbandingan.
4.      Perubahan ukuran partikel
      Digunakan cara Freeze-thaw cycling yaitu temperatur diturunkan sampai titik beku, lalu dinaikkan sampai mencair kembali. Dengan cara ini dapat dilihat pertumbuhan kristal, yang pokok menjaga tidak terjadi perubahan ukuran partikel dan sifat kristal.

F. Keuntugan sediaan suspensi antara lain sebagai berikut :
                  1.            Bahan obat tidak larut dapat bekerja sebagai depo, yang dapat memperlambat terlepasnya obat .
                  2.            Beberapa bahan obat tidak stabil jika tersedia dalam bentuk larutan.
                  3.            Obat dalam sediaan suspensi rasanya lebih enak dibandingkan dalam larutan, karena rasa obat yang tergantung kelarutannya.

G. Kerugian bentuk suspensi antara lain sebagai berikut :
a.       Rasa obat dalam larutan lebih jelas.
b.      Tidak praktis bila dibandingkan dalam bentuk sediaan lain, misalnya pulveres, tablet, dan kapsul.
c.       Rentan terhadap degradasi dan kemungkinan terjadinya reaksi kimia antar kandungan dalam larutan di mana terdapat air sebagai katalisator .

H. Rute Pemberian Sediaan Bentuk Suspensi
·         Oral, contoh : suspensi kloramfenikol, rifampicin
·         Ocular, contoh : suspensi hidrokortison asetat
·         Otic, contoh : suspensi hidrokortison
·         Parenteral, contoh : suspensi penicilin G ( i.m )
·         Rectal, contoh : suspensi paranitro sulfathiazol
·         Topical, contoh : caladin losio

I. Alasan Penggunaan Suspensi Dalam Farmasi
·         Zat berkhasiat tidak larut dalam air
·         Zat berkhasiat tidak enak atau pahit
·         Mengurangi proses penguraian zat aktif dalam air
·         Kontak zat padat dengan medium dispersi dipersingkat
·         Memperpanjang pelepasan obat menggunakan pembewa minyak

v  Aturan pemakaian obat dalam bentuk suspensi
            Dalam pembuatan suspensi harus diperhatikan beberapa faktor anatara lain sifat partikel terdispersi ( derajat pembasahan partikel ), Zat pembasah, Medium pendispersi serta komponen – komponen formulasi seperti pewarna, pengaroma, pemberi rasa dan pengawet yang digunakan. Suspensi harus dikemas dalam wadah yang memadai di atas cairan sehigga dapat dikocok dan mudah dituang. Pada etiket harus tertera “Kocok dahulu dan di simpan dalam wadah tertutup baik dan disimpan di tempat yang sejuk “.

v Contoh obat dalam bentuk sediaan suspensi yang ada di pasaran :
§   Obat maag cair ( Antasida Doen )
§   Obat maag cair ( Mylanta )
§   OBH combi plus
§   Mycostatin Suspensi
§   Amoxicillin
§   Sodium ampicillin  
§   Calapol
§   Proris ibuprofen
§   Combantrin  

III.             EMULSI

A. PENGERTIAN
Emulsi adalah campuran antara partikel-partikel suatu zat cair (fase terdispersi) dengan zat cair lainnya (fase pendispersi) dimana satu campuran yang terdiri dari dua bahan tak dapat bercampur, dengan satu bahan tersebar di dalam fasa yang lain. Dikarenakan setiap bahan pangan memilki karakteristik masing-masing maka setiap bahan pangan memiliki jenis emulsi dan pengaruh jenis emulsi yang berbeda-beda.
Salah satu dari zat cair tersebut tersebar berbentuk butiran-butiran kecil kedalam zat cair yang lain distabilkan dengan zat pengemulsi (emulgator/emulsifiying/surfactan).
B. Emulsi tersusun atas tiga komponen utama, yaitu:
·         Fase terdispersi (zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil kedalam zat cair lain (fase internal).
·         Fase pendispersi (zat cair yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi tersebut (fase eksternal).
·         Emulgator(zat yang digunakan dalam kestabilan emulsi).
C. Ada dua tipe emulsi, yaitu:
(a)    Emulsi A/M yaitu butiran-butiran air terdispersi dalam minyak. Air berfungsi sebagai fase internal & minyak sebagai fase eksternal)
(b)   Emulsi M/A yaitu butiran-butiran minyak terdispersi dalam air.
Pada emulsi A/M, maka butiran-butiran air yang diskontinyu terbagi dalam minyak yang merupakan fase kontinyu, Sedangkan untuk emulsi M/A adalah sebaliknya. Kedua zat yang membentuk emulsi ini harus tidak atau sukar membentuk larutan dispersirenik.
Beberapa sifat emulsi yang penting:
a.    Demulsifikasi
Kestabilan emulsi cair dapat rusak apabila terjadi pemansan, proses sentrifugasi, pendinginan, penambahan elektrolit, dan perusakan zat pengemulsi. Krim atau creaming atau sedimentasi dapat terbentuk pada proses ini. Pembentukan krim dapat kita jumpai pada emulsi minyak dalam air, apabila kestabilan emulsi ini rusak,maka pertikel-partikel minyak akan naik ke atas membentuk krim. Sedangkan sedimentasi yang terjadi pada emulsi air dalam minyak; apabila kestabilan emulsi ini rusak, maka partikel-partikel air akan turun ke bawah. Contoh penggunaan proses ini adalah: penggunaan proses demulsifikasi dengan penmabahan elektrolit untukmemisahkan karet dalam lateks yang dilakukan dengan penambahan asam format (CHOOH) atau asam asetat (CH3COOH).
b.    Pengenceran
Dengan menambahkan sejumlah medium pendispersinya, emulsi dapat diencerkan. Sebaliknya, fase terdispersi yang dicampurkan akan dengan spontan membentuk lapisan terpisah. Sifat ini dapat dimanfaatkan untuk menentukan jenis emulsi.
v  Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas emulsi, adalah:
1.       Tegangan antarmuka rendah
2.       Kekuatan mekanik dan elastisitas lapisan antarmuka
3.       Tolakkan listrik double layer
4.       Relatifitas phase pendispersi kecilr
5.       Viskositas tinggi.
v  Aturan pemakaian obat dalam bentuk sediaan emulsi :
                         “Shake well before use” atau bahasa latinnya “Agitatio ante conqusdum”, kocok dahulu sebelum diminum. Aturan ini tidak diberikan tanpa alasan, obat minum yang tampaknya tercampur rata ini sebenarnya terdiri dari berbagai macam zat aktif, mulai dari berbagai bahan obat itu sendiri, bahan pelarut, bahan pemanis,dan bahan penstabil. Bermacam bahan, baik yang padat, cair, maupun lemak ini kemudian akan tercampur dalam seuatu bentuk emulsi. Nah, agar emulsi ini tercampur dengan baik, sebelum mengkonsumsinya anda harus mengocoknya terlebih dahulu. Pengocokan tidak perlu dilakukan terlalu lama hingga obat berbuih. Cukup membolak-balik botol tempat obat sekitar 15 kali agar emulsi tersebut dapat tercampur sempurna.

v  Contoh obat dalam bentuk sediaan emulsi :
§  Scott’s Emulsion
§  Sakatonik ABC
§  Curcuma plus  
§  Organic

IV.             INFUS
A.    Pengertian
Infus cairan intravena (intravenous fluids infusion) adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh, melalui sebuah jarum, ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh.
Secara umum, keadaan-keadaan yang dapat memerlukan pemberian cairan infus adalah:
1.      Perdarahan dalam jumlah banyak (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah)
2.      Trauma abdomen (perut) berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah)
3.      Fraktur (patah tulang), khususnya di pelvis (panggul) dan femur (paha) (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah)
4.      “Serangan panas” (heat stroke) (kehilangan cairan tubuh pada dehidrasi)
5.      Diare dan demam (mengakibatkan dehidrasi)
6.      Luka bakar luas (kehilangan banyak cairan tubuh)
7.      Semua trauma kepala, dada, dan tulang punggung (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah)

Indikasi pemberian obat melalui jalur intravena antara lain:
1.      Pada seseorang dengan penyakit berat, pemberian obat melalui intravena langsung masuk ke dalam jalur peredaran darah. Misalnya pada kasus infeksi bakteri dalam peredaran darah (sepsis). Sehingga memberikan keuntungan lebih dibandingkan memberikan obat oral. Namun sering terjadi, meskipun pemberian antibiotika intravena hanya diindikasikan pada infeksi serius, rumah sakit memberikan antibiotika jenis ini tanpa melihat derajat infeksi. Antibiotika oral (dimakan biasa melalui mulut) pada kebanyakan pasien dirawat di RS dengan infeksi bakteri, sama efektifnya dengan antibiotika intravena, dan lebih menguntungkan dari segi kemudahan administrasi RS, biaya perawatan, dan lamanya perawatan.
2.      Obat tersebut memiliki bioavailabilitas oral (efektivitas dalam darah jika dimasukkan melalui mulut) yang terbatas. Atau hanya tersedia dalam sediaan intravena (sebagai obat suntik). Misalnya antibiotika golongan aminoglikosida yang susunan kimiawinya “polications” dan sangat polar, sehingga tidak dapat diserap melalui jalur gastrointestinal (di usus hingga sampai masuk ke dalam darah). Maka harus dimasukkan ke dalam pembuluh darah langsung.
3.      Pasien tidak dapat minum obat karena muntah, atau memang tidak dapat menelan obat (ada sumbatan di saluran cerna atas). Pada keadaan seperti ini, perlu dipertimbangkan pemberian melalui jalur lain seperti rektal (anus), sublingual (di bawah lidah), subkutan (di bawah kulit), dan intramuskular (disuntikkan di otot).
4.      Kesadaran menurun dan berisiko terjadi aspirasi (tersedak—obat masuk ke pernapasan), sehingga pemberian melalui jalur lain dipertimbangkan.
5.      Kadar puncak obat dalam darah perlu segera dicapai, sehingga diberikan melalui injeksi bolus (suntikan langsung ke pembuluh balik/vena). Peningkatan cepat konsentrasi obat dalam darah tercapai. Misalnya pada orang yang mengalami hipoglikemia berat dan mengancam nyawa, pada penderita diabetes mellitus. Alasan ini juga sering digunakan untuk pemberian antibiotika melalui infus/suntikan, namun perlu diingat bahwa banyak antibiotika memiliki bioavalaibilitas oral yang baik, dan mampu mencapai kadar adekuat dalam darah untuk membunuh bakteri.

Indikasi Pemasangan Infus melalui Jalur Pembuluh Darah Vena (Peripheral Venous Cannulation)
1.      Pemberian cairan intravena (intravenous fluids).
2.      Pemberian nutrisi parenteral (langsung masuk ke dalam darah) dalam jumlah terbatas.
3.      Pemberian kantong darah dan produk darah.
4.      Pemberian obat yang terus-menerus (kontinyu).
5.      Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur (misalnya pada operasi besar dengan risiko perdarahan, dipasang jalur infus intravena untuk persiapan jika terjadi syok, juga untuk memudahkan pemberian obat)
6.      Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil, misalnya risiko dehidrasi (kekurangan cairan) dan syok (mengancam nyawa), sebelum pembuluh darah kolaps (tidak teraba), sehingga tidak dapat dipasang jalur infus.

v  Kontraindikasi dan Peringatan pada Pemasangan Infus Melalui Jalur Pembuluh Darah Vena
1.      Inflamasi (bengkak, nyeri, demam) dan infeksi di lokasi pemasangan infus.
2.      Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, karena lokasi ini akan digunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt) pada tindakan hemodialisis (cuci darah).
3.      Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil yang aliran darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai dan kaki).

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi dalam pemasangan infus:
1.      Hematoma, yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah arteri vena, atau kapiler, terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum, atau “tusukan” berulang pada pembuluh darah.
2.      Infiltrasi, yakni masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar (bukan pembuluh darah), terjadi akibat ujung jarum infus melewati pembuluh darah.
3.      Tromboflebitis, atau bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena, terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar.
4.      Emboli udara, yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah, terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan infus ke dalam pembuluh darah.

Komplikasi yang dapat terjadi dalam pemberian cairan melalui infus:
• Rasa perih/sakit
• Reaksi alergi

Infus (Injeksi Volume Besar)
Sediaan parenteral volume besar merupakan sediaan cair steril yang mengandung obat yang dikemas dalam wadah 100 ml atau lebih dan ditujukan untuk manusia.Infus adalah larutan injeksi dosis tunggal untuk intravena dan dikemas dalam wadah lebih dari 100 ml. (FI IV hal 10).
Infuse merupakan sediaan steril, berupa larutaan atau emulsi besas pirogen dan sedapat mungkin harus isotonis terhadap darah, disuntikkan langsung langsung ke dalam vena dalam volume relative banyak. ( FI III hal 12). 
Infus merupakan larutan dalam jumlah besar terhitung mulai dari 10 ml yang diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan peralatan yang cocok. Asupan elektrolit dan air dapat terjadi melalui makanan dan minuman dan dikeluarkan dalam tubuh dalam jumlah relative sama. Rasionya dalam tubuh adalah air 57%, lemak 20,8%, protein 17,0%, serta mineral dan glikogen 6%.ketika terjadi gangguan homeostasis (keseimbangan cairan tubuh), maka tubuh harus segera mendapatkan terapi untuk mengembalikan keseimbangan air dan elekrolit.

B.     Tujuan penggunaan sediaan parenteral volume besar antara lain :
1).    Bila tubuh kekurangan air, elektrolit dan karbohidrat maka kebutuhan tersebut harus cepat diganti
2).    Pemberian infus memiliki keuntungan karena tidak harus menyuntik pasien berulangkali
3).     Mudah mengatur keseimbangan keasam dan kebasaan obat dalam darah
4).     Sebagai penambah nutrisi bagi paseien yang tidak dapat makan secara oral
5).     Berfungsi sebagai dialisa pada pasien gagal ginjal

                        Syarat sediaan parenteral volume besar harus steril dan bebas pirogen, karena sediaan diinjeksikan langsung kedalam aliran darah (i.v), sediaan ditumpahkan pada tubuh dan daerah gigi (larutan penguras), sediaan langsung berhubungan dengan darah (hemofiltrasi), sediaan langsung ke dalam tubuh (dialisa peritoneal). Persyaratan infuse intra vena adalah sebagai berikut: sediaan steril berupa larutan atau emulsi, babas pirogen ( pirogen adalah senyawa organic yang menyebabkan demam berasal dari pencemaran mikroba), sedapat mungkin isohidri dan harus isotonis terhadap darah, infuse intravena tidak mengandung bakterisida dan zat dapar, jika berupa emulsi harus bertipe o/w dengan diameter fase dalam tidak lebih dari 5µm dan harus dinyatakan, penyimpan dalam dosis tunggal, dan jika digunakan untuk melengkapi cairan, makanan bergizi dan injeksi manitol disyaratkan untuk mencantumkan kadar osmolarnya. 

C.     Tujuan Pemberian Infus
Larutan sediaan parenteral volume besar digunakan dalam terapi pemeliharaan untuk pasien-pasien yang akan atau sudah dioperasi, atau untuk penderita yang tidak sadar dan tidak dapat menerima cairan, elektrolit, dan nutrisi lewat mulut. Larutan – larutan ini dapat juga diberikan dalam terapi pengganti pada penderita yang mengalami kehilangan banyak cairan dan elektrolit yang berat.
Penggolongan Sediaan Infus Berdasarkan Komposisi dan Kegunaannya Tubuh manusia mengandung 60% air dan terdiri atas cairan intreaseluler 40% yang mengandung ion-ion K, Mg, sulfat, fosfat, protein serta senyawa organic asam fosfat. 
(a)    Fungsi Larutan Elektrolit
       Secara klinis, larutan digunakan untuk mengatasi perbedaan ion atau penyimpangan jumlah normal elektrolit dalam darah. Ada 2 jenis kondisi plasma darah yang menyimpang, yaitu :
-  Asidosis
       Kondisi plasma darah yang terlampaui asam akibat adanya ion Cl dalam jumlah berlebih
- Alkalosis
Kondisi plasma darah yang terlampaui basa karena kelebihan ion Na, K, Clorida.
       
(b)   Infus Karbohidrat
      Adalah sediaan infus yang berisi larutan glukosa atau dekstrosa yang cocok untuk donor kalori. Kita menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan glikogen otot kerangka, hipoglikemia, dll. Kegunaan : 5% isotonis, 20% diuretik, dan 30-50% untuk udem otak

D.    Aturan pemakaian penggunaan infus :
                       1.      Obat tidak dapat diabsorpsi secara oral
                       2.      Terjadinya absorpsi yang tidak teratur setelah penyuntikan secara intramuscular
                       3.      Obat menjadi tidak aktif dalam saluran pencernaan
                       4.      Perlunya respon yang cepat
                       5.      Pasien tidak dapat mentoleransi obat atau cairan secara oral.
                       6.      Rute pemberian secara intramuskular atau subkutan tidak praktis
                       7.      Obat harus terencerkan secara baik atau diperlukannya cairan pembawa
                       8.      Obat mempunyai waktu paruh yang sangat pendek dan harus diinfus secara terus menerus
                       9.      Diperlukan perbaikan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
                   10.      Obat hanya bersifat aktif oleh pemberian secara intravena

E.     Contoh  sediaan infus  :
§  ASERING
§  KA-EN 1B
§  KA-EN 3A & KA-EN 3B
§  KA-EN MG3
§  KA-EN 4A
§  KA-EN 4B
§  Otsu-NS
§  Otsu-RL
§  MARTOS-10
§  AMIPAREN
§  AMINOVEL-600
§  PAN-AMIN G

V.  SUSPOSITORIA
A.    Pengertian
       Suppositoria adalah suatu bentuk sediaan obat padat yang umumnya dimaksudkan untuk dimasukkan kedalam rectum, vagina (ovula) dan jarang digunakan untuk uretra. Suppositoria terdiri dari zat aktif (obat) dan basis
Basis suppositoria harus memiliki sifat-sifat ideal dibawah ini Yaitu ;
Ø  Telah mencapai kesetimbangan kristalisasi, dimana sebagian besar komponen mencair pada temperatur rectal 360 C , tetapi basis dengan kisaran leleh yang lebih tinggi dapat digunakan untuk campuran eutektikum, penambahan minyak-minyak, balsam-balsam, serta suppositoria yang digunakan pada iklim tropis.
Ø  Secara keseluruhan basis tidak toksik dan tidak mengiritasi pada jaringan yang peka dan jaringan yang meradang.
Ø  Dapat bercampur dengan berbagai jenis obat.
Ø  Basis suppositoria tersebut tidak mempunyai bentuk meta stabil.
Ø  Basis suppositoria tersebut menyusut secukupnya pada pendinginan, sehingga dapat dilepaskan dari cetakan tanpa menggunakan pelumas cetakan
Ø  Basis suppositoria tersebut tidak merangsang
Ø  Basis suppositoria tersebut bersifat membasahi dan mengemulsi.
Ø  “Angka air “ yang tinggi maksudnya jumlah air yang bias masuk kedalam basis tinggi.
Ø  Basis suppositoria tersebut stabil pada penyimpanan, maksudnya warna, bau, dan pola penglepasan obat tidak berubah.
Ø  Suppositoria dapat dibuat dengan mencetak dengan tangan, mesin, kompressi atau ekstrusi.
Ø  Jika basis tersebut berlemak, basis suppositoria memiliki persyaratan tambahan sebagai berikut :
Ø  “Angka asam” dibawah 0,2.
Ø  “Angka penyabunan” berkisar dari 200-245
Ø  “Angka iod” kurang dari 7.
Ø  Interval antara titik leleh dan titik memadat kecil

B.     Basis suppositoria berdasarkan sifat fisikanya dibagi kedalam 3 kelompok yaitu :
1.      Basis berminyak atau berlemak
      Basis yang paling sering digunakan adalah lemak coklat karena basis ini tidak toksik, lunak, tidak reaktif dan meleleh pada suhu tubuh. Akan tetapi lemak coklat memiliki kelamahan yaitu mudah tengik, meleleh pada udara panas, menjadi cair bila dicampur dengan obat-obat tertentu dan pemanasan yang lama, trisomerasi dengan titik leleh yang lebih rendah.
      Selain lemak coklat basis yang lain yaitu asam-asam lemak yang dihidrogenasi dengan minyak nabati dan gliserin yang digabungkan dengan asam-asam lemak yang mempunyai berat molekul tinggi contohnya gliseril monostearat.
2.      Basis larut dalam air atau bercampur dengan air
      Basis memiliki supositoria yang sering digunakan yaitu suppositoria gliserin yang berfungsi sebagai basis sekaligus bahan aktif, ada dua macam formula suppositoria yang terkenal yaitu :
3.      Basis yang merupakan campuran basis yang berlemak dan yang bercampur dengan air
      Basis ini umumnya berbentuk emulsi dengan tipe minyak dalam air, contohnya yaitu Polioksil 40 steara. Bahan ini menyerupai lilin, putih, kecokloat-coklatan, padat dan larut dalam air



C.     Pembuatan suppositoria :
             Empat metode yang digunakan dalam pembuatan suppositoria adalah mencetak dengan tangan, kompressi, mencetak tuang dan kompressi pada suatu pres tablet regular
                         1.            Mencetak dengan tangan
               Yaitu dengan cara menggulung basis suppositoria yang telah dicampur homogen dan mengandung zat aktif, menjadi bentuk yang dikehendaki. Mula-mula basis diiris, kemudian diaduk dengan bahn-bahan aktif dengan menggunakan lumping dan mortar, sampai diperoleh massa akhir yang homogen dan mudah dibentuk. Kemudian massa digulung menjadi suatu batang silinder dengan garis tengah dan panjang yang dikehendaki. Amilum atau talk dapat mencegah pelekatan pada tangan. Batang silinder dipotong dan salah satu ujungnya diruncingkan
                         2.            Mencetak kompressi
               Hal ini dilakukan dengan mengempa parutan massa dingin menjadi suatu bentuk yang dikehendaki. Suatu roda tangan berputar menekan suatu piston pada massa suppositoria yang diisikan dalam sulinder, sehingga massa terdorong kedalam cetakan.
                         3.            Mesin Pencetak otomatis
               Sama proses diatas tetapi menggunakan mesin secara otomatis melakukan semuanya.
                         4.            Mencetak tuang
               Pertama-tama bahan basis dilelehkan, sebaiknya diatas penangas air atau penangas uap untuk menghindari pemanasan setempat yang berlabihan, kemudian bahan-bahan aktif diemulsikan atau disuspensikan kedalamnya. Akhirnya massa dituang kedalam cetakan logam yang telah didinginkan, yang umumnya dilapisi krom atau nikel

D.    Petunjuk penggunaan obat suppositoria adalah sebagai berikut :
1).    Cuci tangan suppositoria dikeluarkan dari kemasan, suppositoria dibasahi dengan air.
2).    Penderita berbaring dengan posisi miring dan suppositoria di masukkan ke dalam rectum
3).    Masukkam suppositoria dengan cara bagian ujung suppositoria di dorong dengan ujung jari sampai melewati otot sfingter  rectal kira-kira ½-1 inchi pada bayi dan 1 inchi pada dewasa
4).    Jika suppositoria terlalu lembek untuk dapat dimasukan maka sebelum digunakan sediaan di tempatkan dalam lemari pendingin selama 30 menit kemudiaan tempatkan pada air mengalir sebelum dibuka
5).    Setelah penggunaan suppositoria tangan penderita dicuci bersih.                               

E.     Contoh obat dalam bentuk sediaan suppositoria :
§  Tefaron
§  Tramal suppositoria
§  Encare
§  Proris
§  Glycerini leciva
§  Cytotec
§  Borraginol- S 
§  Albhotyl vaginal














DAFTAR PUSTAKA

Anief. Moh. 2000. Farmasetika. Gajah Mada University Press : Yogyakarta
Anief. 1987. Ilmu Meracik ObatGajah Mada University Press: Yogyakarta
Lahman. L, dkk.1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi III.
UI Press : Jakarta
Soetopo. Seno, dkk. 2001. Teori Ilmu Resep. Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar