Sabtu, 07 Juli 2012

uji salmonella






BAB 1
PENDAHULUAN


A.    LATAR BELAKANG
Pangan (makanan) adalah bahan-bahan yang dimakan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan bagi pemeliharaan, pertumbuhan, kerja dan penggantian sel tubuh yang rusak. Oleh karena itu pangan atau makanan sangat dibutuhkan oleh manusia sebagai sumber zat gizi dan juga sumber energi. Namun pangan juga dapat sebagai sarana penggangu kesehatan bagi manusia karena pangan dapat terkontaminasi oleh cemaran fisik, kimia maupun mikrobia.

Hampir semua bahan pangan tercemar oleh berbagai mikroorganisme dari lingkungan sekitarnya. Beberapa jenis mikroba yang terdapat pada bahan pangan adalah Salmonella sp, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, kapang, khamir serta mikroba patogen lainnya. Pencemaran mikroba pada bahan pangan merupakan hasil kontaminasi langsung atau tidak langsung dengan sumber–sumber pencemaran mikroba, seperti tanah, udara, air, debu, saluran pencernaan dan pernafasan manusia maupun hewan. Hanya sebagian saja dari berbagai sumber pencemar yang berperan sebagai sumber mikroba awal yang selanjutnya akan berkembang biak pada bahan pangan sampai jumlah tertentu.

 Bahan pangan dapat bertindak sebagai perantara atau substrat untuk tumbuhnya mikroorganisme yang bersifat patogenik terhadap manusia.Penyakit menular yang cukup berbahaya seperti tipes, kolera, disentri, tbc, poliomilitis dengan mudah disebarkan melalui bahan pangan yang disebabkan oleh mikroorganisme patogenik seperti salmonella yang akan dibahas pada makalah ini.
Salmonella adalah salah satu bakteri yang seringkali menyebabkan penyakit yang cukup serius apabila mencemari makanan maupun minuman yang dikonsumsi manusia. Salmonella juga dapat hidup pada tubuh makhluk hidup yang berdarah dingin maupun berdarah panas. Untuk dapat mewaspadai mikroorganisme ini oleh karena itu diperlukan adanya identifikasi Salmonella pada makanan yang sering dikonsumsi manusia yang akan dibahas lebih lanjut pada makalah ini.

B.       TUJUAN

1.   Tujuan Umum
·         Untuk mengetahui dan memahami mengenai metode yang digunakan dalam mengidentifikasi Salmonella dalam makanan
2.   Tujuan Khusus                                                                        
     2.1.   Dapat mengetahui jenis bakteri patogen Salmonella secara spesifik
2.2.    Dapat memahami metode analisa dalam mengidentifikasi Salmonella terhadap makanan
2.3.   mengetahui langkah-langkah dalam identifikasi Salmonella

















BAB II
PEMBAHASAN


1.      DEFINISI SALMONELLA

Salmonella merupakan suatu genus bakteri enterobakteria gram-negatif berbentuk tongkat yang menyebabkan tifus, paratifus, dan penyakit foodborne. Spesies-spesies Salmonella dapat bergerak bebas dan menghasilkan hydrogen sulfida. Salmonella dinamai dari Daniel Edward Salmon, ahli patologi Amerika, walaupun sebenarnya, rekannya Theobald Smith (yang terkenal akan hasilnya pada anafilaksis) yang pertama kali menemukan bacterium tahun 1885 pada tubuh babi.
·         Berikut adalah klasifikasi dari Bakteri Salmonella :
Kerajaan    :           Bakteri
Kelas         :           Gamma Proteobacteria
Order         :           Enterobacteriales
Keluarga    :           Enterobacteriaceae
Genus        :           Salmonella
Species      :           S. enterica (Anonimb, 2009).
Salmonella adalah penyebab utama dari penyakit yang disebarkan melalui makanan (foodborne diseases). Pada umumnya, serotipe Salmonella menyebabkan penyakit pada organ pencernaan. Penyakit yang disebabkan oleh Salmonella disebut salmonellosis. Ciri-ciri orang yang mengalami salmonellosis adalah diare, keram perut, dan demam dalam waktu 8-72 jam setelah memakan makanan yang terkontaminasi oleh Salmonella. Gejala lainnya adalah demam, sakit kepala, mual dan muntah-muntah.
Tiga serotipe utama dari jenis S. enterica adalah S. typhi, S. typhimurium, dan S. enteritidis. S. typhi menyebabkan penyakit demam tifus (Typhoid fever), karena invasi bakteri ke dalam pembuluh darah dan gastroenteritis,yang disebabkan oleh keracunan makanan/intoksikasi.Gejala demam tifus meliputi demam, mual-mual, muntah dan kematian. S. typhi memiliki keunikan hanya menyerang manusia, dan tidak ada inang lain. Infeksi Salmonella dapat berakibat fatal kepada bayi, balita, ibu hamil dan kandungannya serta orang lanjut usia. Hal ini disebabkan karena kekebalan tubuh mereka yang menurun. Kontaminasi Salmonella dapat dicegah dengan mencuci tangan dan menjaga kebersihan makanan yang dikonsumsi.
2.      METODE ANALISA

Metode analisa merupakan proses pembuktian atau konfirmasi pengujian secara obyektif di laboratorium yang telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan dan sesuai dengan tujuan  penggunaannya
Dalam pengujian mutu suatu bahan pangan diperlukan berbagai uji yang mencakup uji fisik, uji kimia, uji mikrobiologi, dan uji organoleptik. Uji mikrobiologi merupakan salah satu uji yang penting, karena selain dapat menduga daya tahan simpan suatu makanan, juga dapat digunakan sebagai indikator sanitasi makanan atau indikator keamanan makanan. Pengujian mikrobiologi diantaranya meliputi uji kuantitatif untuk menentukan mutu dan daya tahan suatu makanan, dan uji kualitatif bakteri patogen untuk menentukan tingkat keamanannya, serta uji bakteri indikator untuk mengetahui tingkat sanitasi makanan tersebut (Fardiaz, 1993).
 Dalam  hal ini. metode analisa yang digunakan untuk mengidentifikasi adanya bakteri Salmonella metode yang digunakan yakni metode analisa secara kualitatif  yakni bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya suatu bakteri salmonella  dalam  suatu  makanan.

a.      Metode Analisa Kualitatif
Pada pengujian identifikasi bakteri Salmonella metode yang digunakan adalah metode analisa secara kualitatif. Pada metode analisa kualitatif ini memiliki tahapan – tahapan tertentu dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya suatu mikroorganisme dalam makanan.

Tujuan dari pengidentifikasian dalam uji suatu bakteri (Salmonella) pada metode ini adalah untuk mengetahui mutu ataupun kualitas dari suatu produk berdasarkan kemasan atau sifat mikrobiologinya. Pengujian mikrobiologi pada sampel makanan akan selalu mengacu kepada persyaratan makanan yang sudah ditetapkan. Sebagai contoh sampel pada makanan yakni Parameter uji mikrobiologi pada mayonnaise yang dipersyaratkan sesuai Standar Nasional Indonesia dalam pengujian Salmonella.
Prinsip pengujian deteksi Salmonella menurut Metode Analisis Mikrobiologi (MA PPOM 74/MIK/06) yaitu ada empat tahap untuk mendeteksi adanya Salmonella :
1.      Pra. Pengkayaan dalam media cair non selektif yang diinkubasi pada 37±1 °C selama 18+2jam.
2.      Pengkayaan dalam media cair selektif yang diinkubasi pada 41,5 + 1° C selama 24 ± 3 jam dalam RVS cair dan 37±1° C selama 24±3 jam MKTTn cair.
3.      Inokulasi & identifikasi dalam 2 media padat selektif, media selektif pertama diinkubasi pada 37±1° C selama 24±3 jam dan dengan media yang digunakan.
4.       Konfirmasi terhadap identitas Salmonella dengan uji biokimia dan serologi.

Pada pengujan deteksi Salmonella diguanakan Buffered Peptone Water (BPW) sebagai media cair non selektif, Muller Kaufimann Tetrathionate Novobiocin Broth (MKTTn) dan Rappaport Vassiliadis Medium + Soya (RVS) sebagai media cair selektif, Bismuth Green Agar (BGA) dan Xylose Lysine Deoxycholate (XLD) media padat selektif untuk mengisolasi Salmonella.

b.      Uji Salmonella

Uji Salmonella digunakan untuk menetapkan adanya Salmonella dalam makanan. Salmonella merupakan bakteri gram-negatif berbentuk tongkat yang menyebabkan tifus, paratifus, dan penyakit foodborne. Salmonella terdiri dari sekitar 2500 serotipe yang kesemuanya diketahui bersifat pathogen baik pada manusia atau hewan.

Bakteri ini bukan indikator sanitasi, melainkan bakteri indikator keamanan pangan . Artinya, karena semua serotipe Salmonella yang diketahui di dunia ini bersifat patogen maka adanya bakteri ini dalam makanan dianggap membahayakan kesehatan. Oleh karena itu berbagai standar makanan siap santap mensyaratkan tidak ada Salmonella dalam 25 gram sampel makanan.

      Salah satu contoh uji Salmonella yang telah dilakukan pengidentifikasian yakni pada sampel mayonnaise dengan pustaka syarat yang telah ditetapkan pada SNI 01-4473-1998 dengan syarat negatif koloni/ 25 gram. Karena mungkin keberadaan Salmonella pada makanan sangat kecil karena itu tidak dibuat dalam 1 gram tetapi 25 gram. Salmonella adalah bakteri yang termasuk mikroorganisme yang amat kecil dan tidak terlihat mata. Selain itu bakteri ini tidak meninggalkan bau maupun rasa apapun pada makanan. Kecuali jika bahan makanan (daging ayam) mengandung Salmonella dalam jumlah besar, barulah terjadi perubahan warna dan bau (merah muda pucat sampai kehijauan, berbau busuk). Biasanya bakteri dapat dideteksi melalui pemeriksaan laboratorium.

Salmonella bisa terdapat di udara, air, tanah, sisa kotoran manusia maupun hewan atau makanan hewan. Yang sangat sering sekali terjadi adalah keracunan Salmonella dari makanan yang mengandung telur mentah (tidak diolah), seperti mayonaise, es krim dan pudding. Mayonaise biasanya sudah bersifat asam (pH dibawah 4, Salmonella hidup pada pH 4-9). Pada Mayonaise ditambahkan asam asetat sebagai cuka. Asam asetat pada mayonaise akan membunuh Salmonella.

 Makanan yang mudah rusak seperti dagingmentah (terutama daging cincang), daging unggas, ikan, telur, makanan yang mengadung telur mentah (creme, salat, mayonaise, es krim, pudding, dll) harus segera mungkin didinginkan atau dibekukan dalam lemari es. Untuk mendeteksi keberadaan Salmonella dalam makanan dilakukan dalam 4 tahap yaitu pra-pengkayaan non selektif, pengkayaan selektif, inokulasi dan identifikasi, dan konfirmasi terhadap identitas Salmonella yang diuji. Berikut ini adalah hasil dari pengujian Salmonella
pada 25 gram sampel mayonnaise.


Pada pengujian salmonella ini dibuat juga kontrol positif yaitu sampel yang telah diberi biakan kultur salmonella sebagai pembanding. Dari pengkayaan selektif, biakan dari MKTTn dan RVS diinokulasikanpada media BGA dan XLD untuk tahap inokulasi dan identifikasi. Pada tahap ini hanya biakan dari BGA yang berasal dari MKTTn yang menunjukkan pertumbuhan koloni. Sedangkan pada media XLD tidak ada pertumbuhan koloni. Selanjutnya koloni dari biakan BGA dilakukan uji identifikasi yaitu uji biokimia dan uji serologi. Uji biokimia yang dilakukan antar lain sebgai berikut :
1)      Uji TSIA
Pada uji TSIA warna media slant berubah menjadi merah karena bakteri bersifat basa ini menandakan bahwa bakteri ini tidak memfermentasi laktosa dan sukrosa. Pada media daerah butt media berubah berwarna kuning ini menandakan bakteri memfermentasi glukosa. Pembentukan gas positif ini hasil dari fermentasi H2 dan CO2 dapat dilihat dari pecahnya dan terangkatnya agar. Pembentukan H2S positif ditandai dengan adanya endapan berwarna hitam. TSIA agar mengadung laktosa dan sukrosa dalam konsentrasi 1%, glukosa 0,1% dan phenol red sebagai indikator yang menyebabkan perubahan warna dari merah orange menjadi kuning dalam suasana asam. TSIA juga mengandung natrium trisulfat, yaitu suatu substrat untuk penghasil H2S, ferro sulfat menghasilkan FeS (precipitat), bewarna hitam untuk membedakan bakteri H2S dengan bakteri-bakteri lainnya.
2)      Uji urease
Uji urease digunakan untuk mengetahui kemampuan mikroba menghidrolisis urea menjadi amonia. Enzim urease akan menguraikan urea menjadi amonia. Uji urease menunjukkan hasil positif jika terjadi perubahan warna dari kuning menjadi merah keunguan. Hasil uji urease negatif jika tidak terjadi perubahan warna dari kuning menjadi merah keunguan.
3)      Uji Dekarboksilasi Lysin
Uji Dekarboksilasi Lysin menggunakan media Xylose-Lysine- Desoxycholate Agar medium digunakan untuk isolasi Salmonella danmemilah organisme lain dengan cara memfermentasi xylose, dekarboksilasi lysine dan produksi H2S. Fermentasi xylose sangat lazim bagi kebanyakan organisme enterik kecuali, Shigella, Providencia, Edwardsiella. Pada media ini, Salmonella akan membentuk koloni merah dengan inti hitam, sedang Pseudomonas dapat tumbuh dengan warna
merah dan Eschericia berwarna kuning. Mikroba lain yang dapat tumbuh pada media ini antara lain Arizona, Proteus, Aerobacter, Klebsiella, Citrobacter. Begitu banyak mikroba yang dapat tumbuh, sehingga media ini kurang dapat memilah Salmonella pada tahap awal. Lebih baik
digunakan untuk tahap konfirmasi kontaminan Salmonella.
4)      Uji β-galaktosidase
Uji β-galaktosidase digunakan utuk identifikasi beberapa jenis bakteri seperti Salmonella. Enzim β-galaktosidase merupakan enzim yang dapat mengubah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa. Beberapa mikroorganisme seperti E. coli, dapat menggunakan laktosa sebagai sumber karbon. Selain laktosa, substrat alamiah dari enzim, adalah bahan yang sangat penting, ONPG (o-nitro-phenyl-β-D-galactopyranoside), dapat digunakan pula. Β-galaktosidase dapat mengkatalisis ONPG menjadi galaktosa dan o-nitrofenol. ONPG tidak berwarna tetapi setelah hidrolisis menjadi o-nitrofenol, akan timbul warna kuning pada larutan yang alkali. beberapa jenis bakteri yang mampu melakukan fermentasi terhadap karbohidrat Streptococcus, Lactobacillus, Zygomonas, Saccharomycetes, Escherichia, Enterobacter, Salmonella.
5)      Uji Indol
Uji Indol bertujuan untuk menentukan kemampuan bakteri dalam memecah asam amino triptofan. Media ini biasanya digunakan dalam indetifikasi yang cepat. Hasil uji indol yang diperoleh negatif karena tidak terbentuk lapisan (cincin) berwarna merah muda pada permukaan biakan, artinya bakteri ini tidak membentuk indol dari tryptopan sebagai sumber karbon, yang dapat diketahui dengan menambahkan larutan kovacs. Asam amino triptofan merupakan komponen asam amino yang lazim terdapat pada protein, sehingga asam amino ini dengan mudah dapat digunakan oleh mikroorganisme akibat penguraian protein.
6)      Uji Voges Proskauer
Uji Voges Proskauer bertujuan untuk mengidentifikasi jenis bakteri Untuk membedakan bakteri Escherichia coli dengan Enterobacter aerogenes. Hasilnya uji ini negatif, karena tidak terbentuk warna merah pada medium setelah ditambahkan á-napthol dan KOH, artinya hasil akhir fermentasi bakteri ini bukan asetil metil karbinol (asetolin). Salmonella positif jika pada uji biokimia yang dilakukan hasilnya sebagai berikut:
Ø  TSIA : butt (+), slant (-), gas positif atau negatif dan H2S positif atau negatif.
Ø  Hidrolisis urea : negative
Ø  Dekarbosilasi lysine : positif
Ø  Reaksi voges proskauer : negative
Ø  Produksi indol : negative
Ø  Uji serologi: terjadi aglutinasi pada penambahan antisera polivalen O, H, dan Vi.

Pada biakan contoh setelah dilakukan uji biokimia dan serologi didapatkan hasil sebagai berikut:
·         TSIA : butt (-), slant (-), gas negatif dan H2S negatif.
·         Hidrolisis urea : positif
·         Dekarbosilasi lysine : negative
·         Reaksi voges proskauer : negatif
·         Produksi indol : negative
7)      Uji Serologi
Uji serologi tidak terjadi aglutinasi pada penambahan antisera polivalen O, H, dan Vi.
Karena hasil dari uji biokimia dan uji serologi contoh atau sampel berbeda dengan hasil kontrol positif, maka koloni yang tumbuh dari biakan BGA pada contoh bukanlah Salmonella, sehingga hasil dari pengujian ini dapat dinyatakan sebagai negatif koloni/25 gr. Hasil ini telah memenuhi syarat seperti pada SNI 01-4473-1998 yang mensyaratkan cemaran Salmonella pada mayonnaise adalah negatif koloni/25 gr.

3.      PROSEDUR UJI

Prosedur pengujian deteksi Salmonella sesuai Metode Analisis Mikrobiologi (MA PPOM 74/MIK/06) yaitu:
1.      Pra-Pengkayaan Non-Selektif
Dengan cara aseptic ditimbang 25 gram atau dipipet 25 ml cuplikan ke dalam kantong plastic stomacher steril ditambahkan 225 ml BPW. Dihomogenkan menggunakan stomacher selama 30 detik dan diinkubasi pada suhu 37±1° C selama 18±2 jam.

2.      Pengkayaan Selektif
Dengan cara aseptic dipipet biakan pra-pengkayaan masing-masing 1ml ke dalam 10 ml MKTTn inkubasi pada suhu 37±1°C selama 24±3 jam dan 0,1 ml ke dalam 10 ml RVS inkubasi pada suhu 41,5±1 °C selama 24±3 jam. Jagalah agar maksimum suhu inkubasi tidak melebihi 42,5° C.

3.      Inokulasi & identifikasi
      Dari biakan MKTTn dan RVS diinokulasikan masing-masing sebanyak 1 sengkelit pada permukaan BGA dan XLD, kemudian diinkubasi pada suhu 37+1 °C selama 24+3 jam koloni yang tumbuh diamati. Biakan diduga Salmonella positif jika :
·         BGA : koloni dari tidak berwarna, merah muda hingga merah dan translusen hingga keruh          dengan lingkaran merah muda sampai merah.
·         XLD : koloni translusen dengan bintik hitam ditengah, dan dikelilingi zona transparan berwarna kemerahan.
4.      Konfirmasi
Dipilih dua atau lebih koloni spesifik pada BGA dan XLD diinokulasikan pada media TSA atau NA miring. Dari TSA atau NA miring dilakukan uji konfirmasi sebagai berikut:
a)      TSIA
Diinokulasikan koloni tersangka dengan cara tusuk dan goresan pada media TSIA, inkubasi pada suhu 37+1° C selama 24+3 jam. Amati perubahan warna yang terjadi.
b)      Uji Urease
Inokulasikan koloni tersangka pada media urea agar (Christensen) suhu 37±1°C. Amati perubahan warna biakan yang terjadi.
c)      Uji Dekarboksilasi lysine
Inokulasikan koloni tersangka pada media L.Lysine decarboxylase diikubasi pada suhu 37±1 °C selama 24±3 jam. Amati perubahan warna biakan dan kekeruhan yang terjadi.
d)     Uji Voges Proskauser
Inokulasikan koloni tersangka pada media MR-VP pada suhu 37±1° C selama 24±3 jam. Tambahan 3 tetes larutan Alfa naftol dan 2 tetes larutan KOH 40 %. Amati perubahan warna biakan yang terjadi setelah 15 menit.
e)      Uji Indol
Inokulasikan koloni tersangka pada media Tryptone Broth atau Tryptophan broth, inkubasikan pada suhu 37±1° C selama 24±3 jam. Tambahkan beberapa tetes larutan Kovac. Amati perubahan cincin merah.
f)       Uji β-galaktosidase
Suspensikan 0,5 ml NaCl 0,85 % pada biakan NA miring dalam tabung reaksi kecil steril. Masukkan sebuah cakram ONPG, inkubasi pada suhu 37±1°C selama 24±3 jam.

g)      Uji Serologi
Ambil 1 ose biakan dari TSA/NA miring suspensikan dengan 1 tetes NaCl 0,85 % dan 1 tetes air, dan campurkan pada kaca objek. Apabila diamati dengan latar belakang gelap dan menggunakan kaca pembesar telah terjadi aglutinasi, sebaiknya tidak dilakukan uji serologi dengan antisera polivalen O, H, Vi, karena telah terjadi aglutinasi sendiri (self agglutination).

Apabila tidak terjadi aglutinasi sendiri, lakukan uji serologi seperti diatas dengan antisera polivalen O, H, dan Vi, terjadinya aglutinasi maka Salmonella positif. Uji ini dapat dilakukan pada kaca objek atau tabung kecil. Untuk antisera polivalen H, biakan Salmonella diinokulasikan pada media NA semi padat yang diinkubasi pada 37±1°C selama 24±3 jam. Makanan atau minuman tidak boleh mengandung Salmonella (negative per 25 gram atau 25 ml) (BPOM RI, 2006).

Genus Salmonella termasuk dalam famili Enterobacteriaceae, adalah bakteri Gram-negatif berbentuk batang langsing (0.7– 1.5x2-5 μm), fakultatif anaerobik, oxidase negatif, dan katalase positif. Sebagian besar strain motil dan memfermentasi glukosa dengan membentuk gas dan asam. Umumnya memfermentasi dulcitol, tetapi tidak laktose, menggunakan sitrat sebagai sumber karbon, menghasilkan hidrogen sulfida, decarboxylate lysine dan ornithine, tidak menghasilkan indol, dan negatif untuk urease.

Merupakan bakteri mesophylic, dengan suhu pertumbuhan optimum antara 35 - 37°C, tetap dapat tumbuh pada range 5 - 46°C. Dapat dimatikan pada suhu dan waktu pasteurisasi, sensitif pada pH rendah (≤ 4,5) dan tidak berbiak pada Aw 0,94, khususnya jika dikombinasikan dengan pH 5,5 atau kurang. Sel-selnya dapat bertahan pada pembekuan dan bentuk kering dalam waktu yang lama. Salmonella mampu berbiak pada berbagai makanan tanpa mempengaruhi tampilan kualitasnya (Hartoko, 2007)

Adanya bismuth sulfite dan brilliant green dapat menghambat pertumbuhan gram positif dan coliform. Adanya S dalam media akan diubah menjadi H2S yang berperanan mengendapkan

besi, sehingga koloni berwarna coklat-hitam dengan kilap logam, tampak seperti mata kelinci. Mikroba lain yang dapat tumbuh antara lain Pseudomonas, Shigella dan Vibrionaceae. Media ini sangat baik digunakan pada tahap awal untuk memilahkan Salmonella dari mikroba lain. Sedangkan mikroba lain yang tumbuh terutama Pseudomonas dapat dipilah dengan media lain.
Brilian green Agar mengandung brilian green yang sangat baik untuk menghambat E. coli dan bakteri yang memfermentasi sukrosa dan laktosa. Garam empedu berperanan menghambat bakteri untuk batang gram negatif. Media ini sangat selektif untuk isolasi Salmonella sp. Salmonella typhii akan berwarna merah dikelilingi zona merah. Pseudomonas dihambat, tetapi jika tumbuh menyerupai koloni Salmonella berwarna merah. Untuk menetapkan kontaminan tersebut Salmonella atau Pseudomonas diperlukan konfirmasi dengan media lain ( Usman, 2010).













BAB III
PENUTUP



A.    KESIMPULAN


Metode analisa merupakan proses pembuktian atau konfirmasi pengujian secara obyektif di laboratorium yang telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan dan sesuai dengan tujuan  penggunaannya. Dalam  hal ini. metode analisa yang digunakan untuk mengidentifikasi adanya bakteri Salmonella metode yang digunakan yakni metode analisa secara kualitatif  yakni bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya suatu bakteri salmonella  dalam  suatu  makanan.

Adapun prinsip pengujian deteksi Salmonella menurut Metode Analisis Mikrobiologi (MA PPOM 74/MIK/06) yaitu ada empat tahap untuk mendeteksi adanya Salmonella :
1.      Pra. Pengkayaan dalam media cair non selektif yang diinkubasi pada 37±1 °C selama 18+2jam.
2.      Pengkayaan dalam  media cair selektif yang diinkubasi pada 41,5 + 1° C selama 24 ± 3 jam dalam RVS cair dan 37±1° C selama 24±3 jam MKTTn cair.
3.      Inokulasi & identifikasi dalam 2 media padat selektif, media selektif pertama diinkubasi pada 37±1° C selama 24±3 jam dan dengan media yang digunakan.
4.       Konfirmasi terhadap identitas Salmonella dengan uji biokimia dan serologi.

Pada pengujan deteksi Salmonella diguanakan Buffered Peptone Water (BPW) sebagai media cair non selektif, Muller Kaufimann Tetrathionate Novobiocin Broth (MKTTn) dan Rappaport Vassiliadis Medium + Soya (RVS) sebagai media cair selektif, Bismuth Green Agar (BGA) dan Xylose Lysine Deoxycholate (XLD) media padat selektif untuk mengisolasi Salmonella.






B.     SARAN


·         Semoga makalah ini bisa memberi pengetahuan yang mendalam kepada para mahasiswa khususnya pengetahuan mengenai Metode analisa untuk identifikasi Salmonella dalam makanan
·         Semoga makalah ini bisa dimanfaatkan dan dipergunakan dengan sebaik-baiknya.




































DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2010. Salmonella. http://id.wikipedia.org/wiki/Salmonella. Diakses tanggal 21                 Mei 2012

BPOM. 2008. Pengujian Mikrobiologi Pangan. http://www.pilciran-rakyat.com. Diakses tanggal    21 Mei 2012

Fardiaz, Srikandi. 1993. Analisis Mikrobiologi Pangan. PT. Raja Grafindo Persada : Jakarta.

Hartoko. 2007. Keamanan pangan. http://hartoko.wordpress.com/keamananpangan/ analisis-   bahaya-pada-pangan/. Diakses tanggal 21 Mei 2012

http://www.iptek.net.id/ind/pustaka_pangan/index.php. Diakses tanggal 21 Mei 2012

SNI 01-4473-1998. Mayonnaise. Dewan Standarisasi Nasional. Jakarta.

Sukarta, Wayan. 2008. Mikroorganisme Dalam Bahan Makanan..

Suwandi, Usman. 2010. Peran Media untuk Identifikasi Mikroba Patogen.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar